Wisata Religi Kota Padang

Wisata Religi yang harus dikunjungi di Kota Padang

Padang, salah satunya kota yang berada di Sumatera Barat, yang memiliki berbagai tempat wisata religi yang harus anda kunjungi.

Benar-benar terkenalismenya tidak seperti Bali atau Lombok yang populer dari tujuan atau spot penjelajahannya. Kota Padang lebih populer dengan kulinerannya yang go-international.

Wisata Religi Kota Padang

Siapakah yang tidak mengenal dengan rendang padang? Kulineran ciri khas tanah minang ini jadi salah satunya jejeran makanan terenak di dunia, lho. Tetapi kesempatan ini kalian tidak dibawa untuk pergi cari rendang terhebat, sich. Kalian tetap dibawa traveling dengan topik rekreasi religius.

Baca Juga: Wisata Outdoor Gedung Pencakar Langit

Yakin atau mungkin tidak rupanya Wisata Religi Kota Padang adalah kota di Indonesia yang berpotensi rekreasi religius yang tinggi. Buat kalian yang menyukai berkunjung bangunan-bangunan peribadatan yang monumental, Kota Padang adalah kota yang perlu kalian datangi.

Telah ingin tahu dimanapun spot-spot penjelajahan yang diartikan untuk rekreasi religius di Padang? Tenang saudara, saat ini sila betulkan sikap duduk kalian lebih dulu supaya masih nyaman waktu membaca pembahasan Wisata Religi Kota Padang ini ya!

  1. Masjid Raya Sumatera Barat

Mushola Raya Sumatera Barat jadi daya magnet tertentu untuk pelancong tidak cuma dari dalam negeri, dan juga luar negeri. Mushola yang berada di Jalan Chatib Sulaiman, Kota Padang ini mempunyai arsitek unik ciri khas Minang. Berlainan dengan mushola biasanya yang mempunyai kubah di atasnya, mushola raya ini mempunyai atap dengan ciri khas rumah tradisi Minangkabau yakni Rumah Gadang dengan pojok yang lancip komplet dengan ukir-pahatan kaligrafi yang menarik.

Rizal Muslimin ialah arsitektur sebagai background terbentuknya mushola istimewa ini. Dengan mihrab mushola seperti Bantai Aswad dengan ukir-pahatan Asma’ul Husna yang cantik dan dibuat sanggup tahan gempa sampai 10 magnitudo.

Mushola paling besar di Sumbar sekarang jadi tujuan religius sekalian simbol Sumatera Barat. Dibuat dengan dana Rp330 miliar semenjak Desember 2007 sampai awalnya 2019, mushola ini sempat ditutup karena pandemi virus corona dan sekarang telah dibuka kembali.

Mushola ini dibuat dengan 3 lantai. Lantai pertama adalah lantai tempat wudhu dan lantai cadangan bila lantai dua sebagai lantai khusus untuk salat sudah penuh. Selanjutnya lantai ke-3 adalah lantai pilihan untuk jemaah salat.

Mushola ini didukung oleh 631 tiang pancang dengan dasar poer dengan diameter 1,7 mtr. pada kedalaman 7,7 mtr.. Dengan keadaan topography yang pada kondisi rawa, kedalaman tiap dasar tidak dibanderol sebab sesuaikan titik jemu tanah tanah.

Ruangan khusus yang dipakai selaku tempat salat berada di lantai atas berbentuk ruangan terlepas. Lantai atas dengan elevasi tujuh mtr. tersambung ke atas jalan lewat ramp, teras terbuka yang melandai ke jalan. Dengan luas 4.430 mtr. persegi, lantai atas diprediksi bisa memuat 5.000-6.000 jamaah

  1. Masjid Muhammadan

Mushola Muhammadan yang berada di Pasa Gadang ini terhitung selaku salah satunya mushola paling tua dan sudah masuk di dalam perincian budaya. Ini sebab keunikannya dan sejarahnya.

Mushola Muhammadan dibuat oleh warga turunan India yang sudah berdiri di tahun 1843. Dahulunya, bahan bangunannya dibuat dari gula, pasir, putih telur sampai kapur. Tetapi sekarang sudah diperbaiki jadi semen selaku jalan keluar responsif akan gempa dan disokong oleh design mushola yang makin menarik.

Ada banyak rutinitas keagamaan dan budaya yang dipusatkan di Mushola Muhammadan ini. Bermacam jenis adat yang tetap terlindungi sampai sekarang ini diadakan seperti, upacara Arak Cendana dan Kamis Tabligh dan upacara Serak Gulo. Pada dasarnya, Mushola Muhammadan mempunyai nilai yang tinggi untuk warga turunan India-Padang.

  1. Masjid Raya Gantiang

Mushola Raya Ganting berada di pusat perkotaan Padang, di daerah yang padat dan dikitari beberapa rumah warga yang tersusun seperti onggokan Bukit Barisan yang berlapis-lapis. Di jantung kota yang padat seperti itu, suara azan kedengar mendayu d menaranya yang membubung ke langit biru, seperti nyanyian ombak panggil umat bersujud ke Si Pembuat.

Pada awalnya letak mushola ada di kaki Gunung Padang, selanjutnya dipindah ke pinggir Sungai Arau, sebab Belanda akan membuat jalan ke Teluk Bayur. Paling akhir mushola dipindah ke posisi yang saat ini sama ukuran 30 x 30 m. Sedang, figur warga yang terjebak dalam proses pembangunan mushola ini, diantaranya Angku Gapuk (saudagar di Pasar Gadang Padang), Angku Syekh Haji Umar (Kepala Daerah Ganting), dan Angku Syekh Kepala Koto (ulama yang punya pengaruh).

Semua pembiayaan pembangunan mushola ini didapat dari bantuan golongan muslimin, seperti dari saudagar Pasar Gadang Padang, bantuan dari beberapa perantau Daerah Ganting yang menetap Sibolga, Medan, dan yang menetap di luar negeri. Pekerjaan dikerjakan secara bergotong-royong, dipegang seorang kapten dari Korps Zeni.

Sokogurunya yang sejumlah 25 buah, menyimbolkan 25 Rasul Allah yang harus diimani golongan muslimin. Nama ke-25 orang rasul itu dibuat dengan kaligrafi huruf Arab. Semenjak awalnya berdirinya, mushola ini digunakan selaku tuntunan manasik calon haji yang akan pergi ke Tanah Suci. Orang pertama yang lakukan tuntunan haji di mushola ini ialah Syekh Abdul Hadi yang dari Arab Saudi.

Dia menetap beberapa puluh tahun di Ganting dan menikah dengan wanita Minang, sampai berputra 7 orang. Sesudah habis periode pekerjaannya, dia juga kembali pada tanah airnya (Arab Saudi) dengan membawa juga istri dan anak-anaknya. Tidaklah heran bila dia memprakarsai tuntunan manasik untuk beberapa calon haji.

  1. Masjid Raya Ikur Koto

Jadi salah satunya mushola tua di Kota Padang, mushola ini ada atas tanah wakaf dari Suku Koto selebar kurang lebih 30×30 Mtr. Mushola ini dikenali dengan panggilan surau batu ini sebab bangunannya dikuasai oleh batu-batuan kali pada fondasi dan dindingnya.

Dahulu di awal pembangunan di era ke 20-an, dibagian depan mushola ada bangunan yang seperti menara dan beritanya ada kolam. Tetapi, sekarang tidak lagi ada. Sekarang kecuali mempunyai peranan selaku tempat melaksanakan ibadah, mushola ini jadi saksi bisu perjuangan rakyat Minang pada kolonialisme.

  1. Mekah Mini Padang yang berada di Mushola Nur Zikrullah

Padang menyajikan bermacam tempat rekreasi seperti rekreasi riwayat, rekreasi alam, rekreasi pantai dan rekreasi mendidik. Termasuk salah satunya rekreasi rohani, yaitu Miniatur Makkah di Lubuk Minturun, Padang, Sumatera Barat. Tempat ini sebutkan unik, karena memberikan deskripsi sama dengan Makkah yang asli.

Sesuai namanya, Miniatur Makkah di sini sebuah tempat Mushola yang dibikin demikian rupa serupa dengan kota Makkah di Arab Saudi yang jadi tujuan haji oleh kaum muslim. Sebab tempat ini adalah miniatur saja, pasti ukuran juga tidak sebesar yang aslinya. Tetapi yang bagus sekali dari tempat ini ialah bangunan-bangunan yang berada di sana benar-benar unik dan seakan-akan dibikin serupa dengan aslinya.

Situasi kota Makkah akan makin berasa di saat Anda mulai masuk teritori Mushola Nur Zikrillah. Mushola ini kecuali dipakai untuk melaksanakan ibadah dipakai untuk manasik haji. Mushola Nurzikrullah dibuka cuman di saat shalat. Di muka pintu masuk Anda akan mendapati tugu Alquran raksasa sama seperti yang berada di kota Makkah, tetapi ukuran lebih kecil. Kemudian Anda akan mendapati batu-batuan besar yang dikasih tulisan beberapa nama tempat di Makkah.

Di tengah-tengah teritori rekreasi Miniatur Makkah ini ada jembatan dengan 3 tugu di atasnya, ini melambangkan tempat umat Islam melempar jumroh. Dari sisi jembatan ada satu terowongan yang menyimbolkan terowongan Mina. Di posisi ini ada miniatur bukit Safa dan Bukit Marwah yang disebut lokasi yang didatangi dalam serangkaian beribadah haji. Posisi ini menyediakan panorama alam yang cukup cantik dengan bentangan bukit yang hijau dan rumput taman selaku latar belakangnya.

Nah, itu bermacam opsi tujuan rekreasi religius terhebat dan terkenal yang berada di Padang.  Tidak sangka bukan rupanya di Padang ada banyak tempat wisata keagamaan yang pantas untuk disinggahi.